30 Hari Kotaku Bercerita, Ayo ke Mataram!

#30HariKotakuBercerita – Daftar Panjang untuk Harapan dalam Waktu Pendek #Mataram

Sebab perjalanan bukan saja tentang hal-hal men(y)enangkan, tetapi juga upaya menambah wawasan dan kepedulian

Telah banyak cerita baru kutuliskan. Pun kisah-kisah seru yang menyertainya. Namun belum mampu membuktikan rasa cinta pada kota kelahiran keduaku ini. Masih banyak mimpi besar yang ingin kusumbangkan untuk Mataram tercinta. Dan, bukan saja sekadar melalui tulisan dan gambar. Lebih pada karya nyata. Betapa sejujurnya aku ingin ada yang terdorong mengunjungi Mataram setelah membaca ceritaku selama ini. Ada harapan bisa menumbuhkan penasaran yang pada akhirnya bermuara pada sebuah kunjungan. Terlalu muluk-muluk? Rasanya tidak. 

Mataram yang secara geografis terletak pada posisi 116’04’116’10’ Bujur Timur dan 08’33-08’38’ Lintang Selatan ini terlalu cantik untuk tidak dijadikan tujuan wisata. Sayang saja jika tidak mengunjunginya. Berlebihan? Tentu tidak. Di kota yang menjadi sentra perjalanan wisata Lombok ini, banyak terdapat objek yang layak dikunjungi. Bukan objek wisata saja, tetapi juga objek kuliner dan objek kesenian. Paket lengkap. Sebenarnya mengunjungi Kota yang memiliki motto ‘Maju, Religius, dan Berbudaya’ ini bukan hanya perihal objek-objek tersebut saja. Masih banyak sisi lain yang layak dikunjungi juga. Sisi sosial kemasyarakatan dan kemanusiaan, misalnya. 

Di kota dengan luas daratan 61,30 kilometer persegi dan 56,80 kilometer persegi luas perairan ini, terdapat sisi sosial kemasyarakatan dan kemanusiaan yang sangat menarik. Terutama terkait dengan perlindungan anak. Pada tahun 2014, Mataram telah mencanangkan program menuju Kota Layak Anak 2018. Tentu ini bukan tugas pemerintah kota semata. Banyak pihak terkait lainnya yang juga turut andil dalam pencapaian ini. Di dalamnya adalah masyarakat dan juga organisasi kemasyarakatan. 

Masing-masing memiliki peran yang berbeda dalam upaya terwujudnya Kota Layak Anak. Pemerintah, dengan segenap kebijakan yang berpihak terhadap kepentingan terbaik bagi anak. Masyarakat, dengan peran sertanya dalam menciptakan lingkungan ramah anak. Dan, organisasi kemasyarakatan, dengan langkah nyatanya dalam mendukung program pemerintah kota terkait perlindungan anak.

Di kota dengan masyarakat multietnis di antaranya suku Sasak, Bali, Jawa, Bugis, Melayu, dan Arab ini banyak terdapat organisasi kemasyarakatan yang bergerak dalam bidang anak. Sebut saja Lembaga Perlindungan  Anak (LPA) Kota Mataram, dan LPA NTB. Dua organisasi kemasyarakatan ini sangat konsen terhadap upaya pemenuhan hak anak di kota Mataram dan NTB. Hal inilah yang merupakan peran tidak langsung dalam terwujudnya Kota Layak Anak.

LPA NTB sendiri sampai Agustus 2015 telah membantu penanganan sebanyak 135 kasus anak berbagai bentuk dan jenis. Tunggu! LPA NTB? Lembaga apa itu? Hampir semua telah tahu dan mengenal Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas Anak). Namun belum banyak yang tahu kalau LPA NTB dan beberapa LPA Provinsi lainnya merupakan kepanjangan tangan di tingkat provinsi dengan garis koordinasi. 

Berdiri pada tanggal 29 Maret 2002, LPA NTB telah menjadi pusat pengaduan kasus anak. Selain itu, organisasi kemasyarakatan yang pernah memperoleh penghargaan sebagai Tiga LPA Terbaik  se-Indonesia pada tahun dari Departemen Sosial Republik Indonesia ini juga berfungsi sebagai pusat studi. Bukan saja tentang permasalahan anak, tetapi juga kebijakan. Organisasi yang beralamat di Jalan Kesehatan I Nomor 8 Pajang Timur Mataram ini sangat welcome terhadap pengunjung yang ingin berwisata sosial. 

Tentu akan banyak hal baru yang sebelumnya belum tahu. 

Sambutan hangat akan diperoleh ketika memasuki gerbang sekretariat lembaga yang memiliki visi terpenuhinya hak-hak anak di NTB ini. Suasana teduh dan tenang di gedung yang dibangun sejak tahun 2008 tersebut akan langsung terasa. Sebuah berugaq (gazebo) di halaman samping cocok untuk melepas lelah setelah menjelajah.

  

Wisata apa yang bisa dilakukan di LPA NTB? Wisata sosial kemasyarakatan pastinya. Banyak pengalaman baru dan cerita seru terkait perlindungan anak akan diperoleh di sini. Cerita tentang penanganan kasus anak, cara mendidik anak, bantuan hukum bagi anak, kisah kelam maupun bahagia anak-anak NTB, dan masih banyak kisah penambah wawasan dan kepedulian lainnya. Bagi yang suka membaca atau membutuhkan referensi, bisa menjelajah ruang perpustakaannya atau berdiskusi dengan tim. Tentang apa saja. Dengan peningkatan wawasan, kepedulian bersama untuk berbagi dalam kegiatan sosial tentang perlindungan anak pun sedikit demi sedikit akan tergugah.

  

Saat ini, LPA NTB telah memiliki banyak jaringan dan mitra kerja. Beberapa di antaranya adalah LPA Kabupaten/Kota di seluruh wilayah NTB. Salah satunya adalah LPA Kota Mataram. Bersama LPA Kota Mataram dan pemerintah kota, LPA NTB bersinergi mendukung upaya mewujudkan Mataram sebagai Kota Layak Anak. Terutama dalam hal penanganan berbagai kasus anak. Tentu selanjutnya ini menjadi amanah bagi seluruh masyarakat kota Mataram untuk meningkatkan kualitas Kota Layak Anak. 

Guna peningkatan kualitas ini diperlukan langkah lebih nyata dari pemerintah kota beserta seluruh elemen masyarakat. Beberapa langkah yang diharapkan dapat dilakukan oleh pemerintah kota Mataram dalam waktu pendek ini tercantum dalam daftar panjang berikut ini yang mungkin saja terlupakan dalam penyusunan program.

  1. Hak untuk mendapatkan kesehatan. Bukan saja pada kemudahan akses dan ketersediaan sarana dan prasarana kesehatan yang berpihak pada anak saja. Namun Pemerintah Kota Mataram diharapkan segera membuat sistem penanggulangan sampah berbasis masyarakat yang terlihat menumpuk di beberapa titik. Misalnya, di sepanjang jalan Adi Sucipto, jalan baru Monjok, dan juga pantai Penghulu Agung. Sehingga akan bisa seperti bekas pembuangan sampah di dekat SMA Negeri 7 Mataram yang baru saja dibenahi. Keberadaan sampah tentu akan berdampak buruk terhadap kesehatan calon generasi penerus kota Mataram. Pun masalah kotoran kuda yang berserakan di jalan. Pemerintah kota hendaknya segera melakukan langkah nyata pada kusir cidomo;   
  2. Hak untuk bermain. Berharap pemerintah kota Mataram segera memperbaiki sarana bermain anak-anak yang ada di beberapa tempat. Misalnya, di Taman Sangkareang, Taman Air Loang Baloq, dan Ruang Terbuka Hijau Selagalas. Hal ini terlihat sederhana, tetapi sangat berperan dalam menciptakan anak-anak yang bahagia;   
  3. Hak untuk mendapatkan pendidikan. Saat ini Pemerintah Kota Mataram telah menyelenggarakan sekolah inklusi bagi ABK. Namun pendidikan bukan seperti itu saja. Ke depannya, juga diharapkan merencanakan pembangunan atau dukungan peningkatan kualitas taman baca yang ada di ruang publik agar inklusif juga;   
  4. Hak untuk mendapatkan peran dalam pembangunan. Salah satu kegiatan andalan kota Mataram adalah Pemilihan Terune dan Dedare Mataram. Pada beberapa kegiatan yang diselenggarakan banyak diikuti oleh pelajar SMA berusia di bawah 18 tahun dan masuk kategori disebut anak. Kegiatan ini akan lebih positif bagi anak jika ada penambahan pembekalan keterampilan menulis. Kenapa? Dengan bekal keterampilan ini, anak peserta kegiatan bisa berekspresi dalam mempromosikan kota Mataram melalui tulisan sekaligus berperan dalam pembangunan kota Mataram;
  5. Hak untuk mendapatkan makanan. Pemerintah kota Mataram diharapkan memperketat regulasi tentang izin mendirikan bangunan. Saat ini banyak area persawahan yang telah berubah menjadi bangunan. Bahkan menanam padi bisa saja tumbuh beton. Hal ini juga diperparah dengan alih fungsi sawah yang berujung pada banyaknya ruko mangkrak di beberapa titik kota. Untuk bisa tumbuh kembang secara wajar, anak membutuhkan pendukung. Salah satunya adalah makanan yang cukup. Berkurangnya area persawahan di wilayah kota Mataram tentu akan berdampak buruk pada ketersediaan bahan makanan pokok yang penting bagi tumbuh kembang anak;
  6. Hak untuk rekreasi. Guna pemenuhan hak anak ini, Pemerintah Kota Mataram diharapkan meningkatkan kualitas objek wisata yang ada. Bisa dilakukan dengan menyediakan sarana rekreasi dan hiburan yang aman dan nyaman untuk anak-anak. Bisa saja berupa pembangunan rumah dongeng  dan pembuatan jalur khusus Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) di beberapa pusat rekreasi dan hiburan. Atau setidaknya dibangun stan sederhana untuk sosialisasi dan konsultasi tentang hak anak;
  7. Hak untuk mendapatkan kesamaan. Dalam waktu dekat, Pemerintah Kota Mataram mulai memikirkan tentang program inklusi di lingkup pemerintahan. Selain pembuatan jalur khusus Anak yang Berkebutuhan di kantor dinas/instansi, juga memberikan kesempatan yang sama dan kemudahan bagi ABK yang bersekolah untuk magang.
  8. Hak untuk mendapatkan perlindungan. Pemerintah Kota Mataram diharapkan bisa meningkatkan pelayanan dan penanganan kasus anak yang terjadi di kota Mataram. Baik pencegahan maupun penanganan berbasis masyarakat;
  9. Hak untuk mendapatkan nama. Pemerintah Kota Mataram melalui desa sebagai unit terkecil pemerintahan memberikan himbauan melalui kegiatan keagamaan untuk memberikan nama yang baik bagi anak;
  10. Hak untuk mendapatkan status kebangsaan. Hak ini tercermin dari kepemilikan akta kelahiran. Bisa dilakukan dengan melalui pendekatan adat/tradisi yang berlaku di masyarakat. Pemerintah kota menginstruksikan kepada pihak lingkungan untuk menyebarluaskan informasi tentang arti penting kepemilikan akta kelahiran saat acara ngurisan atau tradisi lainnya.

Tentu harapan-harapan tersebut tidak bisa dilakukan oleh Pemerintah Kota Mataram sebagai single fighter.  Dibutuhkan kerjasama dengan organisasi masyarakat. Dan, organisasi masyarakat tidak bisa bekerja optimal tanpa dukungan dan peran serta masyarakat. Bisa dengan berbagi pemikiran ataupun pembiayaan. 

Semoga daftar panjang untuk harapan dalam waktu pendek tersebut dapat direalisasikan. Hingga ke depannya Mataram bisa benar-benar menjadi Kota Layak Anak. Jika ini tercapai, maka wisata sosial kemasyarakatan dan kemanusiaan di lembaga peduli anak serta wisata lainnya akan semakin bermakna. Dan, tentunya aman dan nyaman untuk anak sebagai individu bagian dari anggota keluarga.

Ingin berwisata yang men(y)enangkan sekaligus menambah wawasan tentang kemanusiaan?

Ayo ke Mataram!

– mo –

    Advertisements
    30 Hari Kotaku Bercerita, Ayo ke Mataram!

    #30HariKotakuBercerita – Romantisme Jiwa Muda Kota Tua #Mataram

    Bicara tentang tempat rekreasi dan hiburan, pikiran langsung tertuju ke objek wisata. Beragam objek wisata ada di Lombok — pantai, air terjun, kuliner, reliji, budaya, dan keluarga. Sama halnya dengan di kota Mataram. Kota yang berpenduduk sekitar 411.745 jiwa ini menawarkan beragam pilihan pusat rekreasi dan hiburan. Sebut saja Islamic Centre, Taman Sangkareang, Makam Loang Baloq, kuliner khas, pasar tradisional, wisata tradisi, dan masih banyak lagi. 

    Salah satu pusat rekreasi yang wajib dikunjungi adalah pantai Ampenan. Bukan tanpa alasan pastinya. Di pantai ini masih berdiri sisa kegagahan Mataram sebagai pintu masuk transaksi dan interaksi perdagangan dengan masyarakat luar. Betapa tidak. Kawasan ini dulunya adalah sebuah pelabuhan yang sangat terkenal sebelum akhirnya dipindahkan ke Lembar Lombok Barat. Hal ini didasari oleh kondisi pantai yang mengalami pendangkalan.

     

    Identitas Pantai Ampenan (Dok. Pribadi)
     
    Keberadaan pelabuhan Ampenan yang dibangun Belanda pada tahun 1800-an ini dimaksudkan untuk menyaingi dominasi kerajaan-kerajaan di Bali. Terbukti akhirnya pelabuhan ini berkembang pesat. Berbagai etnis masuk dan membaur dengan suku Sasak di wilayah Ampenan. Sebut saja etnis Bugis, Tionghoa, Melayu, dan Arab. 

    Vihara Bodhi Dharma (Dok. Pribadi)

    Pembauran ini memiliki bukti-bukti sah dan nyata hingga saat ini. Di wilayah sekitar pantai terdapat wilayah dengan nama etnis. Beberapa di antaranya, yaitu Kampung Bugis, Kampung Melayu, dan Kampung Arab. Pun pembauran etnis Tionghoa yang ditandai dengan kemegahan bangunan Vihara Bodhi Dharma yang berdiri sejak tahun 1804.

     

    Wajah Lama Kota Tua (Dok. Pribadi)
     
    Seiring pindahnya pelabuhan ke Lembar, pantai Ampenan pun perlahan berubah. Namun tidak sampai melenyapkan sisa kejayaan masa silam. Potret nyata tergambar dari kota tua Ampenan. Memasuki perlimaan Ampenan yang menghubungkan jalan Niaga, Pabean, Yos Sudarso, Koperasi, dan Saleh Sungkar ini aroma masa silam masih kuat. Bangunan kuno berupa toko bangunan, roti, dan lainnya masih berdiri kokoh dengan ciri khas masing-masing. 

      

    Namun saat ini pemerintah kota Mataram telah melakukan pembenahan. Bangunan tua telah memiliki jiwa muda. Cat tembok warna-warni yang menyebabkannya. Hanya saja ini untuk bangunan di sepanjang jalan Pabean. Bangunan yang berada di bagian dalam, masih dipertahankan seperti aslinya. Bahkan beberapa bangunan yang tampak rusak, tidak juga diperbaiki. Perbedaan corak dan warna inilah yang melahirkan nuansa baru sebuah pemandangan kota. Segar.

    Menyusuri kota tua Ampenan paling asyik dilakukan saat sore hingga malam hari. Saat sore hari, hawa hangat menguar dari setiap sudut kota. Pantulan sinar keemasan sang matahari adalah penyebabnya. Pun aktivitas dan arus lalu lintas di sepanjang jalan Pabean yang perlahan mulai sepi. Hal ini akan membuat nyaman penikmat wisata sejarah. Terlebih bagi penikmat fotografi.

      

    Jika beruntung, di ujung kota tua, yaitu pelabuhan Ampenan, akan bisa menemukan sebuah mahakarya dari Sang Pencipta. Apalagi kalau bukan sunset. Bagi sunset hunter, lokasi ini sangat pas. Terbukti hingga saat ini pelabuhan Ampenan menjadi salah satu spot pilihan untuk mengabadikan matahari terbenam melalui bidikan kamera. Dari pantai berpasir hitam ini bisa dengan jelas terlihat siluet gunung Agung di Bali. Indah. Terlebih menikmatinya bersama pasangan atau keluarga tercinta. Romantis.

    Sarana dan Prasarana di Pantai Ampenan (Dok. Pribadi)

    Ingin menjadi saksi romantisme jiwa muda kota tua?

    Ayo ke Mataram!
    – mo –

    30 Hari Kotaku Bercerita, Ayo ke Mataram!, Uncategorized

    #30HariKotakuBercerita – Ada Doa di Setiap Helainya #Mataram

    Selalu ada makna dalam sebuah tradisi keluarga

    Sangat tepat untuk menggambarkan tradisi keluarga di Lombok yang satu ini. Mungkin di daerah lain juga ada. Namun di pulau indah yang dijuluki ‘Pulau Seribu Masjid’ ini, tradisi dimaksud lebih kental nuansa islaminya. Tak terkecuali di kota Mataram yang juga didiami oleh masyarakat suku Sasak. Tradisi ini dikenal dengan nama ‘ngurisan‘. 

    Ngurisan berasal dari kata kuris (potong rambut), merupakan tradisi turun-temurun masyarakat Sasak bagi bayi berusia di bawah enam bulan. Tradisi ini biasanya dilakukan bertepatan dengan perayaan hari besar umat Islam. Baik itu saat hari raya Idulfitri dan Iduladha maupun hari besar lainnya. Tradisi ini seringkali juga dilaksanakan pada saat perayaan Lebaran Topat yang dipusatkan di Makam Loang Baloq. Namun seringkali tradisi yang bertujuan mendoakan agar bayi menjadi insan bertakwa ini dilakukan pada saat peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.

    Sumber: Dok. Keluarga

    Kenyataannya saat ini, ngurisan juga dilakukan pada hari-hari biasa. Seperti halnya yang dilakukan oleh Zuhri Ramdani. Ia melakukan ini karena kelahiran puterinya, Nada Nadira Tafana, tidak bertepatan dengan perayaan hari besar Islam dan dilaksanakan di rumah.

    “Tidak masalah juga. Yang penting adalah doa dari sanak keluarga dan juga tetangga serta bukti syukur padaNya.”

    Demikian pengakuan ayah muda yang berprofesi sebagai perawat ini. Menurutnya, tidak masalah kapan dan di mana pun dilakukan. Yang paling penting adalah niat baik dan doa-doa yang menyertai setiap terpotongnya rambut puterinya.

    Sumber: Dok. Keluarga

    Secara umum, meskipun tidak dilakukan pada saat perayaan hari besar, tetapi prosesinya tidak jauh berbeda. Diawali dengan pembacaan barzanji kemudian dilanjutkan dengan selaqaran. Tahap selanjutnya adalah proses pemotongan rambut. Dalam tahap ini, ayah bayi bertugas menggendong didampingi seorang kerabat yang membawakan nampan berisi gunting dan air bunga. Didahului oleh ulama yang memotong rambutnya, dilanjutkan ulama lainnya. Dilanjutkan berkeliling hingga semua yang hadir mendapat giliran untuk memotong atau sekadar memberikan doa lewat air bunga yang ditempelkan di kepala.

    Setelah semua memperoleh giliran, acara pun selesai. Beberapa keluarga yang menyelenggarakan menyiapkan makanan berupa prasmanan. Namun seringkali demi kepraktisan, banyak keluarga lain yang sekadar memberikan nasi kotak atau model cetingan (tempat nasi dari plastik yang dilengkapi lauk pauk) sebagai tanda berbagi bentuk syukur pada pemberi hidup bayi.

    Selain ngurisan, masih ada tradisi keluarga masyarakat kota Mataram yang bisa dinikmati sebagai hiburan sekaligus wisata budaya. Tradisi keluarga ini juga sudah turun-temurun. Tradisi yang merupakan bagian dari tahap perkawinan ini disebut nyongkolan. Prosesi nyongkolan di kota Mataram sama dengan daerah lain di Lombok. Sepasang pengantin diarak oleh pengiring dengan diiringi kesenian Gendang Beleq atau kecimol di sepanjang jalan menuju rumah mempelai perempuan. 

     

    Sumber: google
     
    Seiring pergerakan waktu, tradisi ini mengalami banyak perubahan dari versi aslinya. Bahkan boleh dikatakan telah terjadi pergeseran makna. Ini ditandai dari beberapa bagian yang kadang dihilangkan dengan alasan kepraktisan. Di satu sisi, nyongkolan merupakan hiburan yang menarik. Namun di sisi lain, merupakan penyumbang terbesar kemacetan di kota Mataram. Meskipun berbeda dari pakem aslinya, setidaknya tradisi ini masih terus dipertahankan.

    Tertarik menyaksikan langsung tradisi-tradisi unik ini?

    Ayo ke Mataram!

    – mo –

    30 Hari Kotaku Bercerita, Ayo ke Mataram!, Uncategorized

    #30HariKotakuBercerita – Menyusuri Jalanan Kota #Mataram

    Pada hari Minggu kuturut ayah ke kota

    Naik delman istimewa kududuk di muka

    Siapa yang akrab dengan lagu ini, berarti masa kecilnya bahagia. Aku termasuk salah satunya. Kalian juga, kan? 

    Berbicara tentang delman, Lombok juga memiliki kendaraan tradisional ini yang biasa disebut dengan cidomo. Alat transportasi beroda dua khas Lombok ini juga ditarik seekor kuda dan dikendalikan oleh kusir. Secara umum pun sama dengan dokar yang ada di Solo atau delman di tempat lain. Perbedaan yang mencolok terletak pada roda yang dipakai.

    Roda cidomo tidak seperti roda dokar/delman kebanyakan. Roda cidomo menggunakan roda mobil dengan ukuran besar seperti pada gerobak. Perbedaan lainnya terletak pada susunan tempat duduk penumpang. Kalau dokar/delman posisi lurus ke depan, sedangkan cidomo menghadap ke samping saling berhadapan.

    Mengingat cidomo bisa menjangkau seluruh tempat di kota Mataram, bahkan yang paling kampung sekalipun, menjadikan populasi cidomo begitu banyak. Dan, ini terkadang menjadi masalah utama lalu lintas di kota Mataram. Hampir setiap kemacetan yang terjadi selalu identik dengan cidomo.

    Kenapa?

    Hal ini karena tingginya kecenderungan kusir cidomo untuk parkir sembarangan di bahu-bahu jalan. Masih rendahnya kesadaran kusir cidomo tentang keamanan dan kenyamanan berlalu lintas adalah faktor pencetus utama. Sebenarnya pemerintah kota Mataram telah menerbitkan peraturan tentang jalur terlarang bagi cidomo

     

    Beberapa ruas jalan, khususnya di dekat pasar populasi cidomo sangat tinggi. Di satu sisi sangat positif karena memudahkan masyarakat menggunakan transportasi. Namun di sisi lain, tak dipungkiri keberadaan cidomo yang parkir sembarangan menjadi penyebab semrawutnya lalu lintas. Belum adanya petugas khusus yang menertibkan dan ditambah rendahnya kesadaran kusir menjadi paket lengkap.

    Beginilah potret asli wajah lalu lintas kota Mataram. Diakui atau tidak, dibutuhkan perhatian dari semua pihak untuk mengatasinya. Bukan dengan cara ‘memusnahkan’ kendaraan tradisional Lombok ini pastinya. Namun bisa dicari solusinya bersama-sama. Mulai dari sosialisasi, promosi, hingga advokasi terkait penertiban cidomo. Tujuannya agar kusir tetap bisa menyusuri jalanan demi masa depan tanpa menjadi beban bagi pengguna jalan.
      
    Namun sumber kemacetan bukanlah kesalahan cidomo seutuhnya. Umumnya cidomo menyebabkan kemacetan di sekitar pasar. Bukan saja sekitar pasar Kebon Roek, tetapi juga pasar-pasar tradisional lainnya di Mataram. Kalau dulu, angkutan kota, biasa disebut bemo, juga turut andil menyebabkan kemacetan. Hanya saja tidak lagi untuk saat ini. Hal ini disebabkan karena jumlah bemo di kota Mataram menurun drastis. Hanya ada beberapa saja yang terlihat masih eksis. Penumpang bemo saat ini lebih memilih menggunakan kendaraan pribadi, baik sepeda motor maupun mobil.  
    Masih banyak faktor lain yang menyebabkannya. Di beberapa titik lalu lintas kota Mataram, kemacetan sudah sangat akrab. Sebut saja perempatan Rembiga. Perempatan ini adalah salah satu titik yang paling sering terjadi kemacetan. Volume kendaraan yang melewati jalur inilah penyebabnya. Meskipun telah dibuatkan jalur baru di sebelah selatan, tetapi belum cukup mampu mengatasinya. 

    Titik kemacetan berikutnya adalah sepanjang jalan Pejanggik, tepatnya di depan Bank Indonesia. Hal ini disebabkan karena kendaraan antar-jemput anak sekolah yang parkir. Sampai saat ini, pemerintah kota Mataram belum menemukan solusi mengatasinya. Pun sepanjang jalan Panca Usaha dan Catur Warga yang sedang dalam perbaikan. Ruas jalan ini menjadi penyumbang kemacetan.

     

    Selain tentang kemacetan, lalu lintas Mataram juga menyajikan hal berbeda. Rendahnya kesadaran pemakai kendaraan menyebabkan tingginya tingkat kecelakaan lalu lintas. Betapa tidak. Banyak oknum pengendara yang melanggar lampu merah. Di Mataram hal ini sudah sangat biasa. Bahkan hal ini sudah melahirkan sebuah lelucon.

    Hanya di Lombok, lampu menyala merah itu berarti hijau.

    Dan, ini terjadi bukan hanya di satu lampu merah, tetapi di banyak lampu merah. Miris, bukan? Tapi mau bagaimana lagi. Begitulah kenyataannya. Hal itu sepertinya sudah menjadi tradisi bagi oknum yang tidak (mau) paham aturan berlalu lintas yang aman dan nyaman. Namun tidak usah khawatir. Kunci menjelajah jalanan Mataram adalah berhati-hati dalam berkendara dan mematuhi aturan lalu lintas. Insya Allah perjalanan selama di Mataram akan aman dan nyaman.

    Namun… Tenang saja!

    Wajah lalu lintas kota Mataram bukan seperti itu saja. Tidak melulu tentang ruwet dan semrawut. Terbukti masih banyak ruas-ruas jalan lain di kota Mataram yang lalu lintasnya lancar, meskipun kendaraan banyak berlalu-lalang. Beberapa ruas jalan ini terutama di pinggir kota. Dan, tentunya akan sangat menyenangkan menghabiskan waktu sepanjang pinggir kota dengan naik sepeda motor atau  cidomo. Pasti banyak cerita seru. Tentu melimpah kisah baru.

    Ingin membuktikannya?

    Ayo ke Mataram sekarang juga!

    – mo –


    30 Hari Kotaku Bercerita, Ayo ke Mataram!

    #30HariKotakuBercerita – Meraba Tubuh Si Cantik Cukli #Mataram

    Perajin Cukli Menyelesaikan Pekerjaannya

    Sebab mata pencaharian adalah pilihan

    Setuju, bukan? 

    Bagaimanapun juga tak ada yang bisa memaksa seseorang untuk menentukan mata pencaharian. Masing-masing punya alasan untuk menentukan. Tentu hal ini terkait dengan kemampuan dan keahlian tiap individu. Bukan saja tukang yang membangun Islamic Centre, petugas kebersihan Taman Sangkareang, pedagang di pasar Kebon Roek, atau penjual satai rembiga saja. Namun juga para perajin cukli di wilayah Rungkang Jangkuk Mataram.

    Hah? Cukli? Apa itu?

    Cukli adalah salah satu bentuk kerajinan tangan dengan menggunakan kayu, biasanya kayu jati, sebagai bahan utama dan pecahan kerang untuk motif hiasannya. Bahan pilihan dengan motif-motif yang unik membuat cukli digemari. Bukan saja wisatawan domestik, tetapi juga mancanegara. Kerajinan yang berpusat di Rungkang Jangkuk Mataram ini sudah terkenal hingga ke luar negeri. Tak heran jika beberapa perajin di pusat kerajinan yang ada secara turun-temurun ini ada yang menerima pesanan untuk dikirim ke luar negeri. Letaknya yang tidak terlalu jauh dari pusat kota menyebabkan pusat kerajinan ini seringkali dimasukkan dalam itinerary biro perjalanan wisata.

    Hingga saat ini masih banyak perajin yang terlihat lihai memotong, menghaluskan, membentuk, dan mengukir kayu serta menempelkan pecahan kulit kerang dan menghaluskannya. Dengan teknik meraba yang tepat akan diketahui tingkat kehalusan pengerjaan cukli terutama berupa furnitur dan suvenir khas Lombok. Ketepatan rabaan akan menghasilkan kesan classy pada produk ini. Sehingga menyebabkan banyak pesanan datang dari pihak hotel di Lombok. Hal ini bisa dilihat pada saat pertama kali masuk gerbang ‘Selamat Datang’. Penglihatan Anda akan langsung dimanjakan dengan beraneka ragam cukli cantik dalam showroom yang berderet sepanjang jalan. Selain itu, Anda juga bisa menyaksikan secara langsung proses pembuatannya.

    Menurut salah seorang perajin cukli yang memilih pekerjaan ini sebagai mata pencaharian, proses awal pembuatan cukli pada umumnya sama seperti yang dikerjakan perajin kayu lainnya. Hal utama yang membuat unik dan berbeda dari produk ini adalah pemanfaatan kulit kerang sebagai hiasan. Prosesnya terbilang rumit. Membutuhkan ketelitian dan ketepatan untuk bisa menghasilkan produk yang bagus. Ketelitian diperlukan pada saat membuat pola menggunakan alat khusus pada permukaan kayu. Ketepatan dibutuhkan agar ukuran kulit kerang bisa pas masuk ke dalam pola yang telah dibuat. Lebih lanjut lagi, proses finishing pun tak kalah rumitnya. Membutuhkan kejelian dalam memberikan kesan classy pada produk yang dihasilkan melalui pewarnaan.

    Dari sinilah kita belajar.

    Hal-hal istimewa hanya bisa didapat melalui usaha luar biasa

     

    Berbagai Produk Karya Perajin Cukli

    Produk-produk berkualitas yang siap dipasarkan tersebut selanjutnya dipajang di showroom. Biasanya milik pribadi pengusaha cukli. Dengan keramahtamahan khas masyarakat Sasak, pemilik akan menyapa dan menawarkan produk terbaiknya kepada Anda. Di sini Anda bisa membeli produk pilihan dengan harga sesuai kesepakatan setelah melalui proses tawar-menawar. Mulai dari yang harga puluhan ribu sampai puluhan juta. Tergantung pada jenis, model, ukuran, dan kerumitan pengerjaannya.

    Tak salah jika hal-hal indah kadang tidaklah murah

    Suvenir Khas Lombok

    Selain itu, Anda juga bisa hanya sekadar window shopping melirik si cantik ini. Namun tak ada salahnya jika ada produk yang sesuai selera Anda, mengunjungi tempat ini tidak sekadar melirik saja. Barang yang dipilih untuk dibeli tinggal disesuaikan saja dengan kantong Anda pastinya. Dan, apabila Anda berniat mengabadikan kecantikan cukli, jangan lupa untuk terlebih dahulu meminta izin kepada pemilik showroom. Demikian cara sederhana bentuk saling menghormati antarsesama.

    Kadang tanpa disadari hal-hal sederhana menjadi istimewa bagi seseorang di sekitar kita

    Jadi, jangan cuma melirik saja, jadikan si cantik ini sebagai koleksi sekaligus mendukung kemajuan mata pencaharian perajin cukli.

    Mau?

    Ayo ke Mataram!

    – mo –

    30 Hari Kotaku Bercerita, Ayo ke Mataram!

    #30HariKotakuBercerita – Satai Rembiga: Mahakarya Cita Rasa di Setiap Tusuknya

    Satu Porsi Satai Rembiga Siap Dinikmati
    Satu Porsi Satai Rembiga Siap Dinikmati

    Sebab mencicipi kuliner khas adalah salah satu bukti telah mengunjungi bagian nusantara yang luas

    Mengunjungi sebuah kota, tak lengkap rasanya jika tidak memanjakan lidah dengan kuliner khasnya.  Tak terkecuali berkunjung ke kota Mataram. Kota kecil yang juga merupakan ibukota provinsi NTB ini tak hanya menawarkan pesona Islamic Centre, Taman Sangkareang, dan pasar Kebon Roek saja. Namun juga menawarkan kebesaran beragam cita rasa kuliner yang wajib dicoba.

    Sebut saja ayam taliwang. Salah satu kuliner andalan ini sudah terkenal seantero Indonesia. Belum lagi pelecing kangkung. Rasa pedas yang merupakan ciri khas masakan Lombok menjadi daya tarik kuliner yang satu ini. Pun bahan utama berupa jenis kangkung air yang berwarna hijau dengan tekstur lembut.

    Selain itu, masih ada lagi bebalung. Produk olahan dengan bahan utama tulang sapi dengan daging yang menempel ini memiliki bumbu khas Lombok. Dari aromanya yang kuat terpancar daya pikat hingga rasa tentangnya akan selalu melekat.

    Itu hanya beberapa contoh saja. Masih banyak kuliner di kota Mataram yang wajib dicoba. Salah satu yang benar-benar khas kota Mataram adalah satai rembiga.

    Kok bisa?

    Begini ceritanya…

    Pada zaman dahulu kala saat kerajaan Pejanggik masih menguasai Lombok, tersebutlah seorang keluarga raja yang tinggal di sebuah desa di wilayah Mataram yang bernama Rembiga. Ia sangat piawai dalam mengolah daging sapi hingga empuk dengan cara dibakar. Kemampuannya meracik dua rasa berbeda menjadi satu dalam setiap tusuknya adalah keistimewaannya. Paduan rasa menciptakan sebuah mahakarya dengan aroma yang menggugah selera.

    Keahlian tersebut akhirnya diajarkan secara turun-temurun di wilayah desa Rembiga. Namun bukan saja tentang perihal keahlian yang turun-temurun. Saat ini, keahlian tersebut menjadi salah satu penopang perekonomian masyarakat Rembiga. Hingga akhirnya dikenal dengan sebutan satai rembiga. Hal ini disebabkan karena jenis satai ini hanya dijual di wilayah desa Rembiga.

    Salah satu warung satai rembiga yang eksis sejak 25 tahun lalu adalah milik Ibu Sinnaseh yang berada di sebelah barat perempatan Rembiga. Hanya berjarak tak sampai seratus meter. Lokasi yang mudah dijangkau ini, karena berada di jalur Mataram menuju Gili Trawangan, memudahkan penikmat kuliner khas untuk menemukannya. Warung makan yang bersih dan nyaman berbentuk berugaq (gazebo) ini mematok harga Rp20.000,00 untuk mahakarya cita rasa sepuluh tusuk per porsi.

    Lalu kenapa satai ini sedemikian istimewanya?

    Istimewa bisa saja karena berbeda

    Sangat tepat untuk menggambarkan salah satu dari sekian banyak varian satai di Lombok ini. Keistimewaan satai rembiga terletak pada rasanya. Perpaduan dua rasa berbeda melahirkan sensasi kenikmatan luar biasa. Betapa tidak. Rasa manis yang pas berpadu dengan pedas khas Lombok adalah kunci di setiap tusuknya. Terlebih didukung dengan potongan daging sapi dengan tekstrur lembut yang dibakar sempurna. Terciptalah keistimewaan aroma yang sungguh menggugah selera. Terlebih jika dinikmati bersama sepiring nasi, bebalung, dan pelecing kangkung. Hmm…

    Satai Rembiga Enak Dinikmati Bersama Bebalung dan Pelecing Kangkung
    Satai Rembiga Enak Dinikmati Bersama Bebalung dan Pelecing Kangkung
    Tak percaya?

    Penulis novel My Daddy ODHA, Dy Lunaly, telah membuktikannya. Menurut Dy, satai rembiga merupakan salah satu kuliner khas Lombok yang wajib dicoba.

    “Satai rembiga dagingnya empuk dengan bumbu pedas manis. Lombok banget!”

    Demikian diungkapkan penulis produktif yang telah menulis banyak buku teenlit ini dalam suatu kesempatan mencicipi. Menurutnya, kedua rasa di setiap tusuknya membuat ketagihan.

    Ingin mencobanya juga?

    Ayo ke Mataram!
    – mo –

    satai n irisan daging kecil yang ditusuk dan dipanggang, diberi bumbu kacang atau kecap: — ayam; — kambing (KBBI)

    Ayo ke Mataram!

    #30HariKotakuBercerita – Pasar Kebon Roek: Prasasti Ingatan Tentang Transaksi dan Interaksi

    Tampak Depan Pasar Kebon Roek
    Tampak Depan Pasar Kebon Roek

    Perihal pasar bukan saja tentang transaksi, tetapi juga menemukan makna interaksi

    Siu wah!” 1)

    Ndek bau, Inaq. Siu setenge wah pas mun meno jak. Berembe? Payu?” 2)

    Aok wah.” 3)

    Seperti itu percakapan yang sering terdengar di tengah kerumunan. Yang pasti ini bukan obrolan di Taman Sangkareang. Terus di mana? Iya. Ini obrolan tentang tawar-menawar antara penjual dan pembeli di pasar. Namanya juga pasar, tempat bertemunya penjual dan pembeli. Bisa jadi keduanya bisa saja saling menemukan, sebagai jodoh.

    Sebagai tempat pertemuan beragam individu, setiap pasar menyajikan banyak hal menarik. Tak terkecuali pasar Kebon Roek. Pasar yang berada di jalan Adi Sucipto Ampenan – Mataram ini merupakan pasar tradisional terbesar kedua setelah pasar Mandalika.

    Awalnya, pasar yang didirikan pada tahun 1990 ini merupakan pecahan dari pasar ACC yang telah lebih dulu berdiri. Lokasi yang strategis, membuat pasar ini cepat berkembang.

    Perkembangan sedikit terhenti ketika pada tahun 1999, pasar mengalami musibah kebakaran karena arus pendek. Hal tersebut memaksa pemerintah kota Mataram selaku pemilik melakukan relokasi dan renovasi. Salah satunya adalah kios milik kakak sulung saya. Kejadian tersebut membuatnya shock. Pun saya.

    Bagaimana tidak, usaha yang dirintis sejak pertama kali pasar dibangun ludes dilalap si jago merah. Saya ikut merasakan kesedihan tersebut. Sebab tahun tersebut adalah tahun kedua saya tinggal di Lombok. Berhubung saya masih belum punya pekerjaan tetap, di kios itulah saya membantu berjualan di sela waktu saya mengajar sebagai guru tidak tetap di sebuah sekolah swasta.

    Ah! Kenangan selalu saja datang tiba-tiba tanpa diduga seperti sekarang ini saat saya menuliskannya.

    Akhirnya renovasi yang ditunggu-tunggu pun selesai. Pedagang sayur, buah, daging, sembako, makanan, ikan laut, dan yang lainnya pun menempati los yang telah disediakan dengan sistem sewa. Guna kelancaran, pemerintah kota Mataram pun membentuk pengurus pasar. Salah satunya adalah juru tagih yang bertugas menarik iuran dari pedagang tetap maupun tidak tetap.

    Selain itu, terdapat juga bagian kebersihan dan keamanan yang bertanggung jawab sepenuhnya terhadap kondisi pasar. Kondisi keamanan tidak ada masalah. Berbeda dengan bidang kebersihan. Meskipun pedagang sudah mulai sadar dengan arti penting kebersihan, tetapi aroma busuk sayur dan air pembuangan ikan laut tak bisa dihindari. Tentu saja ini juga menjadi permasalahan pasar-pasar tradisional lainnya di NTB. Beruntung hal ini tidak mengurangi hasrat masyarakat untuk bertransaksi di pasar Kebon Roek.

    Kondisi stabil seperti itu berlangsung hingga tahun 2005 musibah kebakaran kembali terjadi. Relokasi dan renovasi kembali dilakukan. Hanya saja periode ini berbeda. Pasar yang halamannya teduh oleh pohon waru di areal seluas 3.372 meter persegi ini dibangun menjadi semi modern berlantai tiga. Pengaturan los pun menjadi lebih teratur. Namun bukan berarti tidak timbul masalah baru.

    Beberapa pembeli seperti enggan untuk masuk sampai lantai 3. Kondisi tersebut membuat pedagang memilih untuk berjualan di luar pasar. Tepatnya di bagian halaman depan. Kondisi pun berubah menjadi semrawut. Namun demikian kondisi pasar perlahan kembali stabil hingga sekarang.

    Sederet dagangan mampu menarik perhatian wisman
    Sederet dagangan mampu menarik perhatian wisman

    Hal ini terlihat dari jam tutup pasar yang berbeda dari pasar lainnya. Pun dilihat dari beberapa pengunjung pasar yang beragam. Mulai dari penduduk lokal, pendatang dalam negeri maupun luar negeri yang berbelanja berbagai kebutuhan di pasar yang dagangannya masuk kategori layak konsumsi dan dimiliki ini. Mereka bukan hanya bertransaksi, tetapi juga berinteraksi dalam satu bahasa, KESEPAKATAN.

    Transaksi dan interaksi seperti apa yang terjadi di pasar Kebon Roek ini?

    Temukan sendiri!

    Ayo ke Mataram!

    – mo –

    1) Seribu sudah.

    2) Tidak bisa, Ibu. Seribu setengah sudah pas. Bagaimana? Jadi?

    3) Iya sudah.